Faktor prilaku yang menyebabkan KEP

IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR NON PRILAKU YANG DAPAT MENCEGAH PENYAKIT TERSEBUT (HOST, AGENT, ENVIROMENT)

Berbagai upaya perbaikan gizi yang selama ini dilakukan telah mampu menurunkan prevalensi KEP. Data Susenas tahun 1989, 1992, 1995 dan 1998 menunjukkan penurunan prevalensi KEP total dari 47,8% pada tahun 1989 menjadi 41,7% (1992), 35,0% (1995) dan 33,4% pada tahun 1998. Distribusi frekuensi KEP menurut wilayah sangat bervariasi. Beberapa propinsi mempunyai angka KEP relatif rendah yaitu di bawah 30% (target Repelita VI), sementara di beberapa propinsi lain masih
tinggi. Namun krisis ekonomi berkepanjangan yang dimulai sejak pertengahan tahun 1997 menimbulkan berbagai dampak, termasuk terhadap derajat kesehatan dan keadaan gizi masyarakat berupa antara lain peningkatan jumlah penderita KEP yang ditandai dengan ditemukannya penderita gizi buruk yang selama 10 tahun terakhir sudah jarang ditemui.2

Masalah gizi buruk masih dialami oleh anak-anak di berbagai tempat di Indonesia dari tahun ke tahun. Ini menjadi potret buruk pemenuhan kebutuhan mendasar bagi masyarakat Indonesia. Gizi buruk menjadi perhatian masyarakat ketika media mengangkat kasus-kasus meninggalnya anak-anak di banyak daerah karena malnutrisi. Bagaimana pendekatan penanganannya oleh Pemerintah dan masyarakat?

Pengurangan jumlah penderita malnutrisi menjadi salah satu target Tujuan Perkembangan Milenium (Millenium Development Goals atau MDGs). Indonesia berkomitmen untuk mengurangi hingga setidaknya tinggal 18% penduduk yang mengalami malnutrisi pada tahun 2015, di mana angka tahun ini masih 28%, sementara pelaksanaan MDGs tahun ini sudah memasuki periode sepertiga terakhir.
Program perbaikan gizi masyarakat dalam beberapa tahun ini sudah masuk dalam program tugas wajib Pemerintah Daerah. Namun bagaimana pelaksanaannya di lapangan?

PENCEGAHAN
Tindakan pencegahan terhadap marasmus dapat dilaksanakan dengan baik bila penyebab diketahui. Usaha-usaha tersebut memerlukan sarana dan prasarana kesehatan yang baik untuk pelayanan kesehatan dan penyuluhan gizi.
1. Pemberian air susu ibu (ASI) sampai umur 2 tahun merupakan sumber energi yang paling baik untuk bayi
2. Ditambah dengan pemberian makanan tambahan yang bergizi pada umur 6 tahun ke atas
3. Pencegahan penyakit infeksi, dengan meningkatkan kebersihan lingkungan dan kebersihan perorangan
4. Pemberian imunisasi.
5. Mengikuti program keluarga berencana untuk mencegah kehamilan terlalu kerap.
6. Penyuluhan/pendidikan gizi tentang pemberian makanan yang adekuat merupakan usaha pencegahan jangka panjang.
7. Pemantauan (surveillance) yang teratur pada anak balita di daerah yang endemis kurang gizi, dengan cara penimbangan berat badan tiap bulan

IMPLIKASI KEBIJAKAN
Investasi di sumber daya manusia
Investasi sektor publik dalam bidang pendidikan, gizi dan KB berkontribusi langsung terhadap kesejahteraan penduduk miskin. Investasi serupa juga memperkuat pendapatan yang lebih tinggi dan pertumbuhan ekonomi.
Gambaran penting dari investasi di sumber daya manusia merupakan suatu derajat sinergi yang dapat dicapai. Investasi pada pendidikan perempuan, contohnya mem-promosikan pening-katan di bidang kesehatan dan gizi serta mengurangi fertili-tas saat anak perempuan me-masuki usia reproduksi. Investasi di bidang KB juga mengarah ke pengurangan fertilitas dan melebarkan jarak kelahiran berhubungan dengan peningkatan di bidang kesehatan ibu dan anak, gizi dan pendidikan.
Di banyak negara Asia, ada peningkatan perhatian tentang tidak efisiennya pelayanan kesehatan, pendidikan, dan KB yang diberikan oleh pemerintah. Satu pendekatan untuk meningkatkan efisiensi adalah desentralisasi pelayanan pemerintah. Beberapa negara memberikan porsi yang lebih besar kepada LSM dan sektor swasta dalam menyediakan pelayanan sosial untuk masyarakat miskin.
Perhatian lainya adalah untuk menjamin investasi dalam sumber daya manusia yang menguntungkan penduduk miskin seperti halnya kelompok penduduk yang tidak diuntungkan, mencakup perempuan, anak-anak, penduduk desa, etnis minoritas dan kelompok agamawan.

Memperkuat pertumbuhan ekonomi
Pengalaman negara ekonomi industri baru di Asia, seperti Korea Selatan dan Taiwan, menunjukkan bahwa seluruh kerangka kebijakan berdasarkan insentif pasar dan orientasi mengarah ke pertumbuhan ekonomi yang cepat. Pertumbuhan ekonomi merupakan kunci untuk mengurangi kemiskinan karena pertumbuhan meningkatkan kebutuhan akan tenaga kerja, salah satu aset yang tersedia di negara miskin.
Antara tahun 1965 dan 1990, ekonomi Asia Timur yang menekankan pasar untuk terlaksana dengan bebas dan konsisten untuk perdagangan rata-rata lebih cepat 2 point persen per tahun, dibandingkan dengan ekonomi Asia Selatan yang lebih kaku dan tertutup untuk perdagangan.
Pendekatan yang paling sukses untuk mengurangi kemiskinan adalah berdasarkan pada kerangka kebijakan keseluruhan yang memperkuat pertumbuhan ekonomi, dengan tekanan pada sektor yang memberikan pekerjaan untuk penduduk miskin. Untuk menjamin pertumbuhan ekonomi me-nguntungkan masyarakat yang tidak beruntung, kebijakan harus menggunakan investasi yang tepat di sumber daya manusia seperti pendidikan, kesehatan dan pelayanan KB.

Usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK) adalah kegiatan masyarakat untuk melembagakan upaya peningaktan gizi yang dimulai i keluarga yang mempunyai anak balita adalah :
1. setiap ibu menimbangkan balitanya setiap bulan
2. semua anak disususi 2 tahun atau lebih dan mendapat tambahan makanan lainyya sesuai kebuhtuhannya.
3. semua anak usia 1-5 tahun minum satu kapsul viatamin a dosis tinggi setiap enam bulan sekali
4. setiap anak mencret segera diberi minuman yang ada di rumah atau larutan gula garam atau larutan oralit.
5. setiap ibu hamil dan menyusui makan 1-2 piring makanan bergizi lebih banyak dari biasanya.
6. setiap ibu hamil minum satu tablet tambah darah setiap hari sejak sejak hamil 7 bulan
7. setiap pekarangan dimanfaatkan untuk peningkatan gizi keluarga
8. setiap pasangan usia subur mengerti dan melaksanakan KB
9. setiap anak umur 2-12 bulan memperoleh imunisasi lengkap
10. setiap ibu hamil memeriksa diri secara teratur ke bidan atau petugas kesehatan terlatih
11. setiap ibu hamil mendapat 2 kali imunisasi TT
12. setiap keluarga menggunakan garam beryodium dalam masaknnya sehari-hari

Untuk mengatasi kasus kurang gizi memerlukan peranan dari keluarga, praktisi kesehatan, maupun pemerintah. Pemerintah harus meningkatkan kualitas Posyandu, jangan hanya sekedar untuk penimbangan dan vaksinasi, tapi harus diperbaiki dalam hal penyuluhan gizi dan kualitas pemberian makanan tambahan, pemerintah harus dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat agar akses pangan tidak terganggu.

Para ibu khususnya harus memiliki kesabaran bila anaknya mengalami problema makan, dan lebih memperhatikan asupan makanan sehari-hari bagi anaknya. Anak-anak harus terhindar dari penyakit infeksi seperti diare ataupun ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas).

Semua nutrisi penting bagi anak dalam usia pertumbuhan. Prof. Ali berpesan untuk memperhatikan asupan sayur dan pangan hewani (lauk pauk), konsumsi susu tetap dipertahankan, jangan terlalu banyak makanan cemilan (junk food) yang akan menyebabkan anak kurang nafsu makan. Perhatikan juga asupan empat sehat lima sempurna dengan kuantitas yang cukup. Program pencegahan dengan suplemen bergizi (kalori tinggi), snack di antara menu utama, pemberian susu formula, vitamin dan mineral.
Permasalahan gizi buruk harus di atasi dengan segera, perlu di buat program jangka panjang, peningkatan kapasitas kerja, dan penderita gizi buruk harus dirawat.
Pada bayi asupan gizi yang terbaik adalah dengan pemberian ASI ibu selama dua tahun. Pemberian ASI sebenarnya adalah proses pengenalan awal makanan padat dari ibu kepada anaknya. Karena berbagai makanan yang dimakan oleh ibu ditransfer ke anak dalam bentuk ASI. Si Ibu makan rendang, gado-gado dan lainnya, anak turut menikmatinya. ASI perlu diperhatikan kapan si anak lapar atau sudah kenyang dapat dilihat dari perilakunya. Bila lapar ia nangis, sedangkan bila sudah kenyang ia akan menolak diberi ASI (menggeleng kepala/buang muka-jaim) atau menatap tajam. “Bila bayi bisa berbicara ia akan berkata “NO More-No More, Mom”, ujar dr. Aryono Hendarto.
Berdasarkan penelitian, didapatkan bahwa, seorang bayi adalah sehat pada 6 bulan pertama, lalu sekitar 26 % dari mereka menjadi Gizi kurang pada usia 12 bulan. Jadi dapat disimpulkan bahwa kelainan gizi muncul pada saat pemberian MP ASI. Solusi yang paling baik untuk mengatasi masalah gizi adalah, pencegahan dan peningkatan gizi.
Pemberdayaan masyarakat diperlukan, supaya tidak ada ketergantungan terhadap bantuan.

Solusi masalah malnutrisi dari perspektif ekonomi, sosial dan budaya menurut Maria Hartiningsih Roy Tjong

Studi kasus yang pernah di lakukan di NTT, memperlihatkan bahwa faktor sosial dan budaya seperti pesta adat dan belis adalah salah satu cara pemiskinan masyarakat, yang pada akhirnya akan membuat muncul isu Gizi kurang.
Indonesia yang terdiri lebih dari 600 budaya, mempunyai dampak positif dan negatif masing-masing.
Gizi Kurang dan gizi buruk hanya “ tip of the ice berg “. Dasarnya adalah masalah yang sangat besar, saling kait mengkait antara masalah politik, sosial , ekonomi dan budaya. Pemerintah harus dapat mengurai kerumitan itu, dan tentunya di bantu oleh LSM yang bergerak di bidangnya masing-masing.

PENCEGAHAN KKP
Banyak orang yang beranggapan bahwa faktor utama pada malnutrisi itu kemelaratan, sehingga malnutrisi hanya dapat diperbaiki dengan perbaikan status sosial dan ekonomi masyarakat. Walaupun pendapat tersbut mengandung banyak kebenaran, ini tidak berarti bahwa para petugas kesehatan lalu menjadi putus asa dan melepaskan tanggung jawab dalam hal pencegahan KKP.
Tindakan pencegahan KKP bertujuan untuk mengurangi insiden KKP dan menurunkan angka kematian sebagai akibatnya. Usaha disebut tadi mungkin dapat ditanggulangi oleh petugas kesehatan tanpa menunggu perbaikan status ekonomi golongan yang berkepentingan. Akan tetapi tujuan yang lebih luas dalam pencegahan KKP ialah memperbaiki pertumbuhan fisik dan perkembangan mental anak-anak Indonesia sehingga dapat menghasilkan manusia Indonesia yang dapat bekerja baik dan memiliki kecerdasan yang cukup.
Oleh sebab akar-akar malnutrisi menjalar melampaui jangkauan bldang kesehatan dan gizi, akan tetapi mengenai pula lingkungan tradisi dan keadaan ekonomi rakyat, maka inisiatif tunggal dari petugas kesehatan tidak mungkin dapat mencapai tujuan yang luas ini.
Tindakan pencegahan KKP harus dilaksanakan secara nasional dan hal ini memerlukan analisa, perencanaan yang luas dan sistematis. Perencanaan program intervensi sendiri merupakan prosedur yang kompleks dan memerlukan kerjasama para ahli berbagai bidang dan disiplin seperti ahli-ahli dari departemen kesehatan, pendidikan, perdagangan, perhubungan dan sebagainya.
Perbaikan status gizi jangka panjang bergantung kepada pemberian makanan sehari-hari pada anak-anak, yang harus mengandung cukup energi maupun zat-zat gizi esensial. Masukan (intake) bahan makanan yang kurang maupun berlebihan terus-menerus akan mengganggu pertimbuhan dan kesehatan anak-anak tersebut akan tetapi tidak boleh dilupakan, bahwa kebutuhan tiap orang akan dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti umur, berat badan, jenis kelamin, aktivitasnya, suhu lingkungan dimana mereka berada, keadaan sakit, dan sebagainya. Terutama pada anak-anak infestasi parasit dan infeksi kuman dapat mengubah kebutuhan makanan sehari-hari.
Persediaan dan kebutuhan bahan makanan juga dipengaruhi berbagai faktor, misalnya keadaan ekonomi, sosial dan polotik. Makan perencanaan yang efektif memerlukan survei, waktu dan dibicarakan oleh para ahli berulang-ulang. Perencanaan yang realistis harus didasarkan pada perkiraan persediaan bahan makanan maupun keperluannya pada waktu yang akan datang.
Adapun berbagai macam cara intervensi gizi, masing-masing untuk mengatasal satu atau lebih dari satu faktor dasar penyebab KKP yaitu:
1. Meningkatkan hasil produksi pertanian supaya persediaan bahan makanan menjadi yang lebih banyak, yang sekaligus merupakan tambahan pengahasilan rakyat seperti dikemukakan Presiden Soeharto pada peresmian pabrik pupuk fospat (TSP) unit II di Gresik pada tanggal 30 Juli 1983.
2. Penyediaan makanan formula yang mangandung tinggi protein dan tinggi energi untuk anak-anak yang disapih. Makanan demikian pada umumnya tidak terdapat dalam diet tradisi, tetapi sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan yang meningkat pada anak-anak berumur 6 bulan keatas. Formula tersebut dapat diberikan dalam program pemberian makanan tambahan maupun dipasarkan dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat. Pembuatan makanan demikian juga dapat diajarkan pada masyarakat sehingga juga merupakan pendidikan gizi.
3. Memperbaiki infrastruktur pemasaran, infrastruktur pemasaran yang tidak baik akan berpengaruh negatif terhadap harga maupun kualitas bahan makanan. Hal ini sudah ditanggulangi pemerintah melalui Bulog.
4. Subsidi harga bahan makanan. Intervensi demikian bertujuan untuk membantu mereka yang sangat terbatas penghasilannya. Pada hakekatnya pemerintah sudah memberikan subsidi yang cukup besar kepada petani melalui program intensifikasi padi. Oleh proyek bimas dikeluarkan dana antara lain untuk membiayai kegiatan operasional sepeti pembinaan, penyuluhan, latihan dan sebagainya.
5. Pemberian makanan suplementer. Dalam hal ini makanan diberikan .secara cuma-cuma atau dijiual dengan harga minim. Makanan semacam ini terutama ditujukan terutama pada anak-anak yang termasuk golongan umur rawan akan penyakit KKP. Makanan tersebut dapat disediakan pada waktu-waktu tertentu di Puskesmas maupun diberikan secara periodik untuk dibawa pulang. Cara yang disebut belakangan ini biasanya kurang manfaatnya karena makanan yan seharusnya diberikan pada anak-anak yang membutuhkannya, dibagikan kepada seluruh keluarga atau dijual.
6. Pendidikan gizi. Tujuan pendidikan gizi ialah untuk mengajar rakyat mengubah kebiasaan mereka dalam menanam bahan makanan dan cara menghidangkan makanan supaya mereka dan anak-anaknya mendapat makanan yang lebih baik mutunya. Menurut Hofvandel (1983) pendidikan gizi akan berhasi jika:
a. penduduk diikutsertakan dalam pembuatan rencana, menjalankan rencana tersebut, serta ikut menilai hasilnya.
b. rencana tersebut tidak banyak kebiasaan yang sudah turun temurun.
c. anjuran cara pemberian makanan yang diulang pada setiap kesempatan dan situasi.
d. semua pendidik atau mereka yang diberi tugas untuk memberikan penerangan pada masyarakat yang memberi anjuran yang sama.
e. mendiskusilran anjuran dengan kelompok yang terdiri dari para ibu serta anggota masyarakat lainnya, sebab keputusan yang diambil oleh satu kelompok lebih mudah dijalankan daripada seorang ibu saja.
f. pejabat kesehatan, teman-teman, dan anggota keluarga memberikan bantuan aktif dalam memperaktekkan anjuran itu.
g. orang tua maupun anggota masyarakat lainnya dapat melihat hasil yang menguntungkan atas praktek anjuran itu.
7. Pendidikan dan pemeliharaan kesehatan:
a. pemeriksaan kesehatan pada waktu-waktu tertentu misalnya di BKIA, Puskesmas dan posyandu
b. melakukan imunisasi terhadap penyakit-penyakit infeksi yang prevalensinya tinggi.
c. memperbaiki higiene lingkungan dengan menyediakan air minum, tempat membuang air besar (WC).
d. mendidik rakyat untuk membuang air besar di tempat-tempat tertentu atau di tempat yang sudah disediakan, memasak air minum, memakai sendal atau sepatu untuk menghindari infeksl dari parasit., membersihkan rumah serta isinya dan memasang jendela-jendela untuk mendapat hawa segar.
e. menganjurkan rakyat untuk mengunjungi puskesmas secepatnya jika kesehatannya terganggu.
f. menganjurkan keluarga berencana. Petros Bemazian (1970) berpendapat bahwa Child spacing merupakan faktor yang sangat penting untuk status gizi ibu maupun anaknya. Dampak kumulatif kehamilan yang berturut-turut dan dimulai pada umur muda dalam kehidupan seorang ibu dapat mengakibatkan deplesi zat-zat gizi orang tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s